Kamis, 22 April 2010

IDEALISME MAHASISWA DITENGAH BERBAGAI TUNTUTAN

MAHASISWA DITENGAH 

APATISME DAN PRAGMATISASI

         Peran Mahasiswa Indonesia sekarang ini sedang dalam taraf yang bisa dibilang cukup membingungkan, penuh dengan pertanyaan serta keragu-raguan. Setelah arus reformasi 1998 bergulir, mahasiswa yang menjadi salah satu simpul perubahan besar bangsa ini mencoba menemukan lagi bentuknya. Tentunya sebuah format yang peran serta fungsinya memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.

Mahasiswa adalah salah satu katalisator bagi perubahan bangsa. Berdiam diri tentunya bukanlah pilihan. Sayangnya dalam proses mencari bentuk setelah Reformasi 1998, mahasiswa pada akhirnya terhimpit pada dua masalah kecil yang dibesar-besarkan, pada dirinya sendiri, yaitu apatisme dan pragmatis. Kutipan pembuka dalam tulisan ini kami kira cukup menggambarkan tentang kondisi apatis mahasiswa Indonesia saat ini. Sistem pendidikan di kampus-kampus di alam demokrasi lebih berorientasi pada kepentingan pasar dan mengutamakan transaksi ilmu pengetahuan (teks) semata serta mengabaikan transaksi nilai (yang politik). Depolitisasi kampus gaya ‘demokrasi ‘ yang positivistik macam ini membuat kondisi apatis menjadi semakin sahih. Keberpihakan adalah kesia-sian jika bukan dosa. Ketiadaan atau kerancuan nilai-nilai (yang politik) akan mencerabut (disembeded) mahasiswa dari akar masyarakatnya. Kampus harus direbut kembali untuk terus di isi, diuji dan dimaknai dalam nilai-nilai dan semangat baru. Jika kampus tak juga beranjak berubah, jangan berani berharap seorang ‘Obama’ dapat lahir dari kampus semacam itu.

            Sikap apatis atau biasa saya asumsikan sebagai suatu fase di mana suatu individu bersikap masa bodoh dalam melihat suatu permasalahan di masyarakat, dunia akademik kita terlalu disibukan dengan pola-pola mementingkan masa depan sendiri tanpa pernah mementingka suatu permasalahan yang ada di dalam  masyarakat. Mencoba untuk mengkritisi suatu permasalahan tanpa ikut memikirkan bagai mana cara untuk menyelesaikan suatu permasalahan, tetap saja bisa kita katakan sebagai hasil dari sikap apatis itu. Tapi bagaimana cara kita untuk merubah pola-pola seperti ini. Satu hal yang saya takutkan secara pribadi ketika hal-hal di atas terjadi kita sebagai mahasiswa akan terlahir sebagai manusia-manusia pintar, bukanlah sebagai manusia cerdas. Kita akan lahir sebagai individu yang pintar beretorika, tanpa bisa mencari penyelesaian dari permasalahan-permasalahan yang ada. Hal ini terbukti dengan sering kalinya kita lihat di berbagai media cetak dan Elektronik, pergerakan teman-teman dalam berdemostrasi yang membawa nama rakyat, akan tetapi di lain pihak, masyarak yang di bawakan namanya merasa antipati dalam pergerakan tersebut. Hal ini dimungkinkan terjadi akibat adanya kesalahan dalam memaknai suatu pergerakan, seharusnya kita sebagai manusia-manusia cerdas dapatlah mencari suatu cara yang lebih elegan dalam penyampaian suatu keinginan .

Pragmatisme dan apatisme sudah mulai banyak menghinggapi sikap dan tindakan kaum-kaum muda intelektual bangsa dalam menilai suatu permasalahan baik yang terjadi di dalam ruang lingkup terdekat mereka di dalam dunia pendidikan seperti kampus dan secara bersamaan mampu memaksa kampus sebagai wadah pendidikan profesional untuk memenuhi berbagai macam tuntutan mahasiswa yang ada. Kaum-kaum tersebut beranggapan bahwa hal tersebut sebagai sesuatu hal yang lumrah di dalam era tuntutan ini. Dengan adanya globalisasi, dan tersedianya banyak layanan untuk menerima unsur-unsur globalisasi, seringkali menjadikan kampus memperketat birokrasi yang ada untuk menahan lajur arus globalisasi tersebut. Doktrin para pengajar yang antipati terhadap gerakan mahasiswa sekaligus kebijakan otoriter yang dibuatnya-pun mampu menciutkan nyali mahasiswa, seperti yang terjadi di salah satu jurusan Fakultas Pertanian. Seorang dosen yang pada intinya bersikap otoriter terhadap mahasiswanya mengatakan ”Saya tidak tau masalah anda  yah ! yang jelas anda tidak lebih cepat hadir dari saya”, walaupun toleransi untuk mahasiswa tersebut seharusnya di dapatkan dengan pertimbangan yang jelas, tetapi semua itu menjadi mentah dengan ancaman nilai akhir. Pada intinya saat ini proses bukan menjadi suatu pertimbangan bagi para otoritarian kebijakan.

            Kampus, identik dengan kehidupan akademik. Kehidupan mahasiswa yang beragam dan unik, serta dalam setiap langkahnya pasti membawa cerita yang berbeda. Ada beragam sisi yang bisa kita lihat, sisi yang mampu membawa setiap insan mahasiswa yang terlibat di dalamnya untuk bercengkrama, berdiskusi, berpolitik kampus, ataupun hanya sekedar datang dan pulang tanpa membawa kesan. Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh kampus, seringkali dijadikan sebagai ajang perdebatan mengenai seberapa besar kepentingan mahasiswa terpenuhi dan seberapa tersalurkannya aspirasi mereka atas kebijakan itu sendiri.

Kampus, memiliki dunianya sendiri. Dunia dewasa yang penuh tantangan dan pilihan untuk memilih (being a winner or a looser). Dunia bagi mahasiswa untuk mencari dan membentuk jati dirinya. Suka ataupun tidak, hal tersebut memang terjadi di dalam kampus, dan memaksa banyak orang untuk mulai berfikir apa yang ada di dalam kehidupan kampus dewasa ini.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa pragmatisme dan apatisme muncul karena banyak faktor, baik karena semakin pesatnya akses kemudahan dari globalisasi informasi yang berkembang saat ini; atau bahkan sebagai bentuk reaksi lanjutan dari kekecewaan kaum muda intelektual terhadap permasalahan di dalam negeri ini. Pragmatisme dan apatisme, entah apapun pengertian terminologinya, pastilah seringkali diidentikkan dengan politik. Sedangkan politik sendiri, tidak akan pernah lepas dengan kekuasaan (power).

Terdapat banyak aktor yang turut andil dalam mengatur pergerakan di dalamnya. Salah satunya adalah mahasiswa sebagai penyokong perubahan politik itu sendiri. Keberadaan mahasiswa, baik di dalam dan di luar layar pergerakan perpolitikan, tidak pernah dianggap sebagai sebuah hal yang maya belaka. Walaupun kita semua tahu, tidak semua mahasiswa mengetahui politik dalam arti yang sebenarnya. Dari tuturan klasik dosen, ataupun kisah faktual ketatanegaraan; setiap mahasiswa memiliki definisi yang berbeda-beda dalam menafsirkan politik itu sendiri. Pengetahuan dan ilmu yang dimiliki oleh mahasiswa merupakan sebuah parameter tersendiri yang dapat dijadikan sebagai sebuah tolok ukur dalam menilai realita perpolitikan di dalam kampus atau bahkan untuk ruang lingkup yang lebih luas, yaitu pada tingkat ketatanegaraannya.

Tetapi itu dulu, ketika Soe Hok Gie dan teman-temannya masih berjuang untuk menjadikan perpolitikan di negeri ini menjadi lebih baik. Bahkan melalui tulisan kritisnya mengenai “Mahasiswa UI bopeng sebelah” karena ada pertarungan dua kubu kepentingan yang ingin menonjolkan back ground gerakannnya untuk menguasai politik kampus. Lalu apa yang akan dia katakan kemudian melihat realita yang terjadi saat ini, dimana sudah sangat jarang ditemui mahasiswa kritis yang mengkritik tanpa ingin mendapatkan reward atasnya?

Seperti yang telah terjadi kemudian bahwa akibat dari arus globalisasi informasi tanpa batas, menjadikan mahasiswa untuk apatis, lebih bersikap cuek dan semau gue. Sehingga mungkin lebih tepat apabila dikatakan bahwa sebagian besar mahasiswa Indonesia bopeng. Lihatlah bagaimana sering terjadi rebutan masa dunia kampus yang sudah melibatkan politisi, tetapi usaha untuk kembali membawa dunia intelektual yang kondusif belum kelihatan. Dan kemudian dibarengi oleh sikap pragmatis dari mahasiswa itu sendiri yang lebih mementingkan tujuan praktisnya tanpa berfikir lebih panjang sebab-akibat yang akan terjadi di belakangnya.

Tetapi, tidak pernah tidak, mahasiswa yang sudah berpedoman pada tiga kebijakan kehidupan kampus, dan pengaruh globalisasi ekonomi bagi kehidupan pribadi mereka, tetap akan memegang dan memainkan peranan yang sangat penting sebagai agent of change dan agent of modernization dinamika kehidupan masyarakat saat ini. Contoh lainnya adalah dewasa ini, demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Tak jarang aksi tersebut diikuti dengan tindak kekerasan. Yang dapat terlihat dari kasat mata masyarakat perkotaan adalah sudah tidak murninya lagi aksi tersebut, sebagai akibat dari adanya pihak-pihak di luar mahasiswa yang kadang kala ikut menungganginya sebagai tindakan atas kepentingan pribadi atau kelompok. Orasi-orasi yang dikumandangkan ada kalanya tidak relevan, terlalu hiperbolis, terlalu memaksa, dan bersifat subyektif (tidak berdasarkan data); sehingga tak jarang pemerintah ataupun pihak yang berkuasa cenderung melecehkan mereka.

Dalam ruang lingkup tertentu, sebagian mahasiswa Indonesia mulai menganggap demonstrasi ataupun penyaluran orasi sebagai sesuatu yang membosankan, membuang-buang waktu, dan tidak bermanfaat. Hal ini terlihat dari banyaknya opini mahasiswa terhadap rekan-rekannya yang berdemonstrasi di luar kampus. Mereka berkecenderungan untuk berfikir bahwa belajar di kampus, mendapat indeks prestasi yang tinggi agar cepat lulus, sehingga dapat secepatnya merasakan dunia kerja; adalah sesuatu yang utama dan sangat dinanti-nantikan. Tapi ketika mereka memimpikan hal tersebut, mereka lupa bahwa idealisme dan daya kritis hal yang sangat melekat dengan jiwa mahasiswa menjadi terpendam atau boleh jadi hilang.

Mulai tumbuhnya gejala pragmatis dan apatisme dalam pergerakan mahasiswa tersebut, juga terlihat dari kecenderungan untuk tidak perduli dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Berkembangnya sikap individualistik yang berkembang ke arah hedonistik mengakibatkan pasifnya keinginan untuk ikut terlibat dalam gerakan mahasiswa. Sehingga tidak jarang kemudian, ketika mereka mencoba untuk berpolitik, aktivitas politiknya lebih didasari pada anggapan bahwa politik itu kotor dan tidak manusiawi. Hal tersebut secara tidak langsung tercermin pada orasi-orasi yang diutarakan. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, akan timbul rasa tidak percaya dan curiga terhadap siapa saja yang menjalankan roda pemerintahan ini. Mewabahnya pragmatisme dan apatisme mahasiswa Indonesia sekarang ini, secara tidak langsung bisa berdampak menekan tingkat kreativitas dan objektivitas yang melatarbelakangi munculnya sikap kritis terhadap masyarakat dan Pemerintah- mahasiswa itu sendiri. Hendaklah sikap mementingkan diri sendiri mesti kita hentikan, agar tercapai suatu nilai- nilai luhur dalam diri kita dan alangkah indahnya hidup ini jikaulah bisa dapat berguna untuk orang lain. Bukankah ini adalah fungsi kita sebagai manusia ? marilah kita buat perubahan, mulai dari detik ini tanamkan bahwa kita adalah manusia yang unggul yang dapat melakukukan suatu perubahan yang besar dan enyahkan pola-pola pemikiran apatis, pragmatis dan hedonis. Dan semoga kelak kita menjadi para pengajar yang bijak dalam menentukan kebijakan karena kebijakan bukan berarti pengekangan ataupun sebaliknya.

 

Reference:

Realita aktifitas mahasiswa 

Berbagai sumber dan redaksi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar