Kamis, 06 Agustus 2015


The Moments 'Pertemuan'
Berapa lama aku tak lagi merangkai kata dan kisah di ruang ini. Padahal banyak rasa hambar yang aku rasakan saat menjalani beberapa momen di Daerah kelahiran ibunda ku tercinta. J. Hari ini aku mulai menekan lagi tombol-tombol hitam bermotif huruf di kamar tidur yang juga ruang kerjaku.Oke… Cerita ini mungkin agak konyol, dan panjang. Bahkan mungkin bisa sampai berseri. (tergantung mood, hehe…)
Ini tentang Pertemuan,

Tapak awal perjalanan
Hituangan bulan sudah aku berada di tanah pesilat Kota Madiun. Anggap saja pertemuan itu dimulai setelah tiga bulan aku berprofesi sebagai wartawan anyaran. Peretemuan ini terjadi tanpa disangka dan diduga tiga bulan pasca meletusnya Gunung Kelud, Kediri (13 Februari 2014). Ini juga yang mengawali cerita aku dan dia.
Pasca terserang gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) yang berkolaborasi kompak dengan gejala tipes. Orang tua ku jadi punya alasan untuk memulangkan ku kembali ke tanah Sultan Mahmud Badaruddin Sumatera Selatan. Mereka meminta ku untuk kembali meniti karir dengan profesi yang memiliki waktu kerja lebih wajar dari saat ini (hehehe….. #agak licik). Namun, pertemuan itu merubah segalanya. Aku jadi memiliki sepuluh alasan untuk menepis satu permintaan ibu dan bapakku di sana (Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan).
Aneh memang, aku akui ini aneh, tapi benar ini nyata… Fakta… Fenomena…. Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, ini hal yang tak disangka………………….loading sarver…………….
Aku bisa bertahan satu tahun lebih dengan suasana pekerjaan ekstra pressure ini. Bahkan, aku jadi cenderung bisa menikmatinya dengan berbagai alasan. Pertemuan itu salah satunya.
Awal konflik
Entah kapan pertemuan ini diawali. Aku Cuma ingat saat itu Mei 2014 di ruang IGD rumah sakit milik pemerintah Provinsi Jawa Timur. Niat hati mencari seorang finalis Putri Indonesia yang diisukan jadi salah seorang dokter muda di tempat itu. Eeeh,,, arah kaki menyasar salah satu ruang kecil di pojok kanan instalasi gawat darurat itu. Seorang perempuan mengenakan pakaian serba hijau semacam baju perawat operasi medis. ‘’Enggeh mas….’’ Kata-kata pertamanya yang masih terngiang di sini….. (nunjuk ke otak)
‘’Mmm… Maaf mbak pernah dengar g ? ada putri Indonesia magang disini,…, atau mungkin itu mbak ?’’ modus ku…. Wkwkwkw. ‘’Karena secara face (sok English) wajah mbak itu udah pas,’’ sambung kata-kata ku disambut dengan gelak tawa dia -sebut saja namanya Ciwik-.
Pertemuan itu jadi gerbang awal pompa semangatku bertahan di Kota Pecel, Pesilat, dan Gadis Ini. ….. Pertemuan yang singkat itu
to be continued…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar