Sebelum saya meneruskan artikel ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk bersama-sama memusatkan pemikiran kita pada kota tempat berdirinya pusat pendidikan Universitas Sriwijaya yang kita cintai ini. Indralaya kota yang terkenal dengan masakan pindang pegagan ini kini menjadi pusat perhatian para rekan-rekan akademisi mahasiswa Universitas Sriwijaya. Tetapi sayangnya perhatian itu bukan tertuju pada prestasi ataupun suatu hal yang positif dan patut untuk di banggakan, tetapi tentang kondisi ibu kota Kabupaten ini, sangat disayangkan memang kota yang di dalam wilayahnya terdapat tempat dibentuknya kaum intelektual ternyata kondisi infrastruktur yang maaf, “menyedihkan”. Sudah sering kali kita lihat infrastruktur jalan, terminal, dan drainase air yang bisa dikatakan tidak layak untuk sebuah ibu kota kabupaten. Sehingga kota yang seharusnya bisa seindah ibu kota yang lain ternodai oleh, kondisi jalan yang buruk karena berlubang secara merata, seringnya banjir/ air tergenang di wilayah terminal/ timbangan tempat akses putar arah jalur Palembang – OKI dan Palembang – Prabumulih. Memang kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan Pemerintah Daerah setempat dengan kondisi demikian, karena jika kita menyadari bahwa sebenarnya kita juga memiliki bagian tanggung jawab terhadap kondisi ini, terutama yang kuliah di Universitas Sriwijaya Indralaya ataupun Universitas lain yang ada disekitar daerah tersebut.
Kita sebagai kaum intelektual, yang memiliki potensi lebih, baik itu berupa semangat, pemikiran yang fresh, kemudian kreatifitas yang merupakan ciri khas kaum muda intelektual seharusnya berupaya untuk turut serta ambil andil dalam memecahkan permasalah tersebut. Tentunya yang sesuai dengan bidang yang kita miliki, misalnya yang berhubungan erat dengan infrastruktur adalah Mahasiswa Teknik Sipil yang disiplin ilmunya mempelajari tentang tata letak dan bangunan, saya rasa tidak ada salahnya menyumbangkan saran dan pemikiran cerdasnya untuk mengatasi permasalahan ini. Sering kali kita dengar para mahasiswa Universitas Sriwijaya, apakah itu pejalan kaki, pengendara kendaraan roda dua, roda empat, maupun penumpang angkutan umum yang hanya bisa mengeluhkan atau bahkan mencaci kondisi ini, tanpa bersama-sama ikut memikirkan yang terbaik dalam mengatasi permasalahan tersebut. Tidak salah memang kita mengeluhkan kondisi ini karena memang kita memiliki hak, tetapi akan lebih baik jika apa yang kita keluhkan tersebut juga memiliki solusi yang dapat berguna dalam memperbaiki sesuatu yang seharusnya patut untuk diperbaiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar